Saatnya Dorong Peningkatan Pelayanan PLN

Blackout listrik yang berlangsung awal Agustus lalu, masih jadi catatan buat warga Indonesia, ditambah lagi peristiwanya pernah melumpuhkan beberapa ibukota Jakarta.

Menurut Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan, kecepatan PLN dalam mengembalikan situasi genting itu dilihat cukup optimal. PLN telah berupaya untuk lakukan normalisasi dengan optimal dengan mengirim saluran listrik dari pembangkit lain di Jawa, hingga ada daerah yang telah menyala dari jam 6 sore, atau jam 7-an, walau memang di sejumlah daerah yang lain masih padam.

“Minimal prioritas mereka dengan selekasnya menyalurkan listrik ke Jakarta, menunjukkan jika usaha mereka cukup optimal, ” jelas Mamit.

Mamit juga memandang bentuk kompensasi PLN telah sesuai Kepmen ESDM No 27 tahun 2017. Jika berdasar ketentuan yang lama kan 20 % (untuk non adjustment) serta 35 % (biaya adjusment, besarnya kompensasi yang dapat dikasih ke warga.

“Walupun pada akhirnya, jika tidak salah PLN akan menggratiskan atau memangkas bea terpengaruh, ” jelas Mamit.

Mamit juga memprotes pada gagasan implikasi ketentuan denda kompensasi yang semakin besar lagi pada PLN dan PJB. Masalahnya ketentuan itu diindikasikan akan makin memperberat beban keuangan PLN. Serta, denda yang besar itu dapat mengakibatkan masalah kelistrikan yang semakin besar lagi.

“Jadi saya anggap, dengan denda yang saat ini juga, harus PLN mempunyai potensi kehilangan penghasilan hampir Rp1 triliun. Saya anggap itu telah lumayan besar serta benar-benar memperberat PLN.

Maka bila inspirasi implikasi denda pada PLN serta warga akan digratiskan, bila berlangsung pemadaman semasa beberapa saat, itu semakin lebih memperberat PLN. Dengan tanggung jawab kelistrikan yang sebesar itu serta denda yang semakin besar lagi, justru dapat berlangsung pemutusan saluran listrik lagi, blackout kembali lagi, ” Mamit mengutarakan kekhawatirannya.

PLN juga pantas diberi animo. Masalahnya kecuali bergerak cepat mengembalikan pemadaman, PLN juga selekasnya pastikan pemberian kompensasi pada konsumen setianya yang terpengaruh blackout. “Saya anggap ini satu bentuk tanggung jawab PLN untuk memberi service optimal pada warga, ” urainya.

Tanpa peningkatan biaya listrik semenjak tahun 2017 juga, Mamit memandang PLN sudah lakukan kenaikan service yang baik.

“Semenjak tahun 2017 tidak ada peningkatan biaya listrik. Jadi mereka lakukan efektivitas semaksimal kemungkinan hingga PLN tidak banyak alami kerugian. Dengan demikian kita ketahui jika PLN telah lakukan kenaikan service tanpa peningkatan biaya, ” tutur Mamit.

Karenanya, menurutnya langkah paling baik yang perlu didorong saat ini ialah wawasan kenaikan kualitas service PLN.

“PLN harus terus lakukan kenaikan service yang lebih bagus lagi pada warga. Saya menyaksikannya, insiden yang tempo hari mudah-mudahan dapat jadi pelajaran bernilai buat seluruh pihak untuk makin melakukan perbaikan lagi kekurangan yang ada sejauh ini, ” berharap Mamit.

Di lain sisi, Anggota DPR RI dari Komisi VI Sartono Hutomo menjelaskan, PLN untuk perusahaan yang sudah berdiri semasa beberapa puluh tahun semestinya masih persisten lakukan penelusuran periodik pada beberapa sarana serta jaringannya. Dengan begitu situasi blackout tempo hari dapat dijauhi.

“Minimum PLN harus membuat cek teratur, ” jelas Anggota DPR dari Fraksi Demokrat yang komisinya mengepalai bidang Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM & BUMN serta Standarisasi Nasional.

Juga demikian, Sartono akui faksinya memberi suport atas usaha keras PLN dalam mengembalikan jaringannya kembali lagi.

“Jadi yang pasti, kami benar-benar dukungan usaha keras PLN, kami akan memberi suport yang sesuai dengan keperluan PLN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *